Saturday, December 13, 2008

PENGANTAR ILMU JURNALISTIK

MENGENAL JURNALISTIK ISLAMI

Jurnalistik memiliki definisi yang sangat banyak, namun pada hakekatnya sama. Para tokoh komunikasi atau tokoh jurnalistik mendefinisikan berbeda-beda. Jurnalistik secara harfiah, dalam bahasa Inggris (journalistic/journalism) artinya kewartawanan atau hal-ihwal pemberitaan, kata dasarnya “jurnal” (journal), artinya laporan atau catatan. Dalam bahasa Prancis (du jour) yang berarti “hari” (day) atau “catatan harian” (diary). Dalam bahasa Belanda (journalistiek) artinya penyiaran catatan harian. Kata journal sebagai terjemahan dari bahasa Latin (diurnal), yang berarti “harian/setiap hari”. Begitu pula dengan bahasa Arab yang disebut (jûrnâl/yaumiyyah), dan pelakunya jurnalis/wartawan dinamakan Suhufiyyun. Biasanya, catatan harian ini berisi hal-hal yang penting dan menarik.

Pada mulanya jurnalistik hanya mengelola hal-hal yang sifatnya informatif saja. Itu terbukti pada Acta Diurna sebagai produk jurnalistik pertama di zaman Romawi Kuno, ketika Julius Caesar berkuasa. Berkat kemajuan teknologi dan ditemukannya pencetakan surat kabar dengan system silinder (rotasi), maka istilah “pers muncul”. Sehingga orang lalu mensenadakan istilah “jurnalistik” dengan “pers”. Sejarah yang pasti tentang jurnalistik tidak begitu jelas sumbernya, namun yang pasti jurnalistik pada dasarnya sama yaitu diartikan sebagai laporan.

Dalam sejarah Islam cikal bakal jurnalistik yang pertama kali di dunia adalah pada zaman Nabi Nuh AS. Suhandang, dalam bukunya juga menerangkan sejarah Nabi Nuh terutama dalam menyinggung tentang kejurnalistikan. Dikisahkan bahwa pada waktu itu sebelum Allâh SWT menurunkan banjir yang sangat hebat kepada kaum yang kafir, maka datanglah malaikat utusan Allâh SWT kepada Nabi Nuh agar ia memberitahukan cara membuat kapal sampai selesai. Kapal yang akan dibuatnya sebagai alat untuk evakuasi Nabi Nuh beserta sanak keluarganya, seluruh pengikutnya yang sâlih dan segala macam hewan masing-masing satu pasang. Tidak lama kamudian, seusainya Nabi Nuh membuat kapal, hujan lebat pun turun berhari-hari tiada hentinya. Demikian pula angin dan badai tiada henti, menghancurkan segala apa yang ada di dunia kecuali kapal Nabi Nuh. Dunia pun dengan cepat menjadi lautan yang sangat besar dan luas. Saat itu Nabi Nuh bersama orang-orang yang beriman lainnya dan hewan-hewan itu telah naik kapal, dan berlayar dengan selamat diatas gelombang lautan banjir yang sangat dahsyat.

Hari larut berganti malam, hingga hari berganti hari, minggu berganti minggu. Namun air tetap menggenang dalam, seakan-akan tidak berubah sejak semula. Sementara itu Nabi Nuh beserta lainnya yang ada dikapal mulai khawatir dan gelisah karena persediaan makanan mulai menipis. Masing-masing penumpang pun mulai bertanya-tanya, apakah air bah itu memang tidak berubah atau bagaimana? Hanya kepastian tentang hal itu saja rupanya yang bisa menentramkan karisauan hati mereka. Dengan mengetahui situasi dan kondisi itu mereka mengharapkan dapat memperoleh landasan berfikir untuk melakukan tindak lanjut dalam menghadapi penderitaanya, terutama dalam melakukan penghematan yang cermat.

Guna memenuhi keperluan dan keinginan para penumpang kapalnya itu Nabi Nuh mengutus seekor burung dara ke luar kapal untuk meneliti keadaan air dan kemungkinan adanya makanan. Setelah beberapa lama burung itu terbang mengamati keadaan air, dan kian kemari mencari makanan, tetapi sia-sia belaka. Burung dara itu hanya melihat daun dan ranting pohon zaitun yang tampak muncul ke permukaan air. Ranting itu pun di patuknya dan dibawanya pulang ke kapal. Atas datangnya kembali burung itu dengan membawa ranting zaitun. Nabi Nuh mengambil kesimpulan bahwa air bah sudah mulai surut, namun seluruh permukaan bumi masih tertutup air, sehingga burung dara itu pun tidak menemukan tempat untuk istirahat demikianlah kabar dan berita itu disampaikan kepada seluruh anggota penumpangnya.

Atas dasar fakta tersebut, para ahli sejarah menamakan Nabi Nuh sebagai seorang pencari berita dan penyiar kabar (wartawan) yang pertama kali di dunia. Bahkan sejalan dengan teknik-teknik dan caranya mencari serta menyiarkan kabar (warta berita di zaman sekarang dengan lembaga kantor beritanya). Mereka menunjukan bahwa sesungguhnya kantor berita yang pertama di dunia adalah Kapal Nabi Nuh.

Baik hikayat Nabi Nuh maupun munculnya acta diurna belum merupakan suatu penyiaran atau penerbitan sebagai harian, akan tetapi jelas terlihat merupakan gejala awal perkembangan jurnalistik. Dari kejadian tersebut dapat kita ketahui adanya suatu kegiatan yang mempunyai prinsip-prinsip komunikasi massa pada umumnya dan kejuruan jurnalistik pada khususnya. Karena itu tidak heran kalau Nabi Nuh dikenal sebagai wartawan pertama di dunia. Demikian pula acta diurna sebagai cikal bakal lahirnya surat kabar harian.

Seiring kemajuan teknologi informasi maka yang bermula dari laporan harian maka tercetak manjadi surat kabar harian. Dari media cetak berkembang ke media elektronik, dari kemajuan elektronik terciptalah media informasi berupa radio. Tidak cukup dengan radio yang hanya berupa suara, muncul pula terobosan baru berupa media audio visual yaitu TV (televisi). Media informasi tidak puas hanya dengan televisi, lahirlah berupa internet (online), sebagai jaringan yang bebas dan tidak terbatas. Dan sekarang dengan perkembangan teknologi telah melahirkan banyak media (multimedia).

Istilah jurnalistik erat kaitannya dengan istilah pers dan komunikasi massa. Jurnalistik adalah seperangkat atau suatu alat media massa. Jurnalistik mempunyai fungsi sebagai pengelolaan laporan harian yang menarik minat khalayak, mulai dari peliputan sampai penyebarannya kepada masyarakat mengenai apa saja yang terjadi di dunia. Apapun yang terjadi baik peristiwa faktual (fact) atau pendapat seseorang (opini), untuk menjadi sebuah berita kepada khalayak.

Jurnalistik adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan atau pelaporan setiap hari. Menurut kamus, jurnalistik diartikan sebagai kegiatan untuk menyiapkan, mengedit, dan menulis surat kabar, majalah, atau berkala lainnya.

Dewasa ini, jurnalistik dapat diartikan sebagai ilmu, proses, dan karya, seperti berikut ini:

Ilmu jurnalistik adalah salah satu ilmu terapan (applied science) dari ilmu komunikasi, yang mempelajari keterampilan seseorang dalam mencari, mengumpulkan, menyeleksi, dan mengolah informasi yang mengandung nilai berita menjadi karya jurnalistik, serta menyajikan kepada khalayak melalui media massa periodik, baik cetak maupun elektronik.

Proses jurnalistik adalah setiap kegiatan mencari, mengumpulkan, menyeleksi, dan mengolah informasi yang mengandung nilai berita, serta menyajikan kepada khalayak melalui media massa periodik, baik cetak maupun elektronik.

Karya jurnalistik adalah uraian fakta dan atau pendapat yang mengandung nilai berita, dan penjelasan masalah hangat yang sudah disajikan kepada khalayak melalui media massa periodik, baik cetak maupun elektronik.

Pencarian, pengumpulan, penyeleksian, dan pengolahan informasi yang mengandung nilai berita menjadi karya jurnalistik, dan penyajiannya kepada khalayak melalui media massa periodik, baik cetak maupun elektronik, memerlukan keahlian, kejelian, dan keterampilan tersendiri, yaitu keterampilan jurnalistik. Penerapan keterampilan jurnalistik harus dilandasi oleh prinsip yang mengutamakan kecepatan, ketepatan, kebenaran, kejujuran, keadilan, dan tidak berprasangka (praduga tak bersalah).

Ilmu jurnalistik dituangkan dalam bentuk karya jurnalistik yang disajikan kepada khalayak melalui media massa periodik, baik cetak (surat kabar, majalah, tabloid, buletin, dan lain-lain) maupun elektronik (radio dan televisi). Saat ini berkat perkembangan teknologi elektronik, telah lahir media massa periodik baru, seperti video/teletext yang arus informasinya searah, surat kabar elektronik (online), dan TV-kabel interaktif, yang arus informasinya berjalan dua arah. Media massa baru/elektronik yang arus informasinya berjalan dua arah ini disebut telematika.

Mengingat masing-masing sarana itu memiliki sifat khas, maka cara mengolah isi pesan harus disesuaikan dengan sifat khas tadi, dengan tujuan agar isi pesan yang disajikan dapat diterima khalayak (pembaca, pendengar, dan pemirsa) secara tepat dan jernih sehingga tidak menimbulkan interpretasi (penafsiran) yang lain.

Masing-masing media memiliki kelebihan dan juga kelemahan dalam fungsinya sebagai sarana. Namun demikian, bagi khalayak, kelebihan dan kelemahan ini justru dapat saling melengkapi dalam memperjelas penerimaan informasi atau isi pesan.

Melalui media radio dan televisi, informasi dapat diterima secara cepat tetapi tidak terperinci, sedangkan informasi yang terperinci dapat diperoleh melalui media massa periodik cetak.

Media massa periodik, baik cetak maupun elektronik memiliki sifat yang disyaratkan atau diwajibkan sebagaimana layaknya sebuah media massa periodik, yaitu publisitas, universalitas, periodisitas, kontinuitas, dan aktualitas (Baschwitz, 1946), yang artinya:

- Publisitas berarti dapat disebarluaskan kepada khalayak.

- Universalitas berarti isi pesannya bersifat umum atau universal, yang berarti dapat dibaca, didengar, atau dilihat oleh siapa saja.

- Periodisitas berarti disajikan kepada khalayak secara periodik atau tetap. Disajikan disini berarti diterbitkan maupun disiarkan.

- Kontinuitas berarti berita yang disajikan berkesinambungan, sampai fakta dan pendapat yang mengandung nilai berita itu tidak lagi dinilai penting atau menarik oleh sebagian besar khalayak.

- Aktualitas berarti isi pesan mengutamakan nilai kebaruan.

Selain media massa periodik, ada pula media massa non-periodik, seperti buku, buklet, leaflet, folder, selebaran, spanduk, papan pengumuman, dan sebagainya. Media massa non-periodik tidak dipergunakan untuk menyebarluaskan karya jurnalistik.

Karya jurnalistik bersumber dari fakta atau realitas yang mengandung nilai berita di dalam masyarakat, seperti peristiwa, pendapat masalah hangat, dan masalah/hal unik, oleh karena itu bersifat faktual.

Penjelasan masalah hangat diolah dan disajikan dalam bentuk monolog (pidato atau ceramah), dialog (wawancara, diskusi panel/debat, talk show), reportase (langsung/live atau tunda), editorial, dan dokumenter. Berita (news) adalah sajian utama sebuah media massa di samping opini (view). Mencari berita dan kemudian menyusunnya menjadi sebuah sajian informasi merupakan tugas utama wartawan.

Fakta adalah sesuatu seperti apa adanya, tidak ditambah atau dikurangi sehingga bersifat suci. Opini adalah pendapat yang dilandasi selera pribadi, sedangkan interpretasi adalah pendapat yang dilandasi oleh fakta. Wartawan dan reporter dapat memberikan interpretasi, karena dasarnya adalah fakta, tetapi tidak dibanarkan memasukkan pendapat yang dilandasi selera pribadi mereka sendiri. Akan tetapi, jika memasukkan pendapat orang lain (narasumber) tetap dibenarkan, dengan syarat nama atau identitas narasumber harus disebutkan dengan jelas. Interpretasi yang disusun secara tepat akan menjadi bunga berita karena akan memberi nilai lebih pada berita tersebut.

Fakta dan pendapat harus bersumber pada:

SESUATU YANG BENAR-BENAR TERJADI

SESUATU YANG BENAR-BENAR ADA

SESUATU YANG BENAR-BENAR, BENAR

DAN YANG HARUS MENGANDUNG NILAI KEBENARAN

Narasumber yang memberikan pendapat merupakan fakta, tetapi isi pendapat itu dapat mengandung nilai kebenaran dapat pula tidak. Jadi, hanya pendapat yang mengandung nilai kebenaran yang dapat disajikan. Sungguhpun demikian, pendapat yang tidak mengandung nilai kebenaran, masih dapat disajikan, dengan syarat memiliki tujuan yang lebih luas, misalnya demi ketentraman masyarakat atau stabilitas nasional. Jika media massa periodik menyajikan pendapat yang tidak mengandung nilai kebenaran tetapi memiliki tujuan untuk kepentingan masyarakat, berarti media massa periodik ini melakukan pelanggaran dosa putih atau white sin yang masih dapat dibenarkan.

Contoh:

Ada kerusuhan di suatu tempat yang menimbulkan banyak korban tewas dan luka-luka, sebagai akibat pertentangan suku. Korban yang tewas mencapai ratusan orang dari satu suku tertentu. Demi ketentraman masyarakat, pihak yang berwajib menyatakan bahwa yang tewas hanya 10 orang. Pendapat yang dipublikasikan secara luas melalui media massa periodik inilah yang disebut dosa putih atau white sin.

Fungsi karya jurnalistik adalah menginformasikan fakta dan atau pendapat yang mengandung nilai berita yang terjadi di tengah masyarakat, serta memberikan penjelasan masalah hangat melalui narasumber yang relevan untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpastian yang ada di tengah masyarakat.

Tugas karya jurnalistik adalah mengungkap fakta dan atau pendapat yang mengandung nilai berita, membela kebenaran dan keadilan, menjelaskan masalah hangat, serta mendidik masyarakat agar lebih bersikap demokratis.

Karya jurnalistik, apa pun bentuk dan jenisnya, harus bersifat dan memenuhi persyaratan berikut ini:

- Tidak memihak, kecuali memihak nilai kebenaran.

- Isi uraian berimbang.

- Isi uraian adil, jujur, dan terbuka.

- Isi uraian tidak melanggar azas praduga tak bersalah (presumption of innocence), dan tidak mempengaruhi jalannya persidangan auatau perkara (trial by the press).

- Mengutamakan kecepatan dan ketepatan.

- Uraian ringkas, jelas, sederhana, dan dapat dipercaya.

- Uraian tunduk pada filosofi atau ideologi bangsa dan negara.

- Uraian bersifat bebas, tetapi bertanggung jawab.

- Tidak mencampuradukkan antara fakta dan pendapat pribadi.

- Tidak mempertentangkan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan) seperti di Indonesia.

Karya jurnalistik, apa pun bentuk dan jenisnya, berfungsi membela kebenaran dan keadilan, dengan cara mengungkap fakta dan atau pendapat secara informatif, aktual, dan berimbang.

Setiap karya jurnalistik harus mampu memberikan jawaban “apa yang diperlukan sebagian besar khalayak” dan “apa yang diinginkan sebagian besar khalayak”. Pada dasarnya, apa yang diperlukan dan diinginkan sebagian besar khalayak, ditambah dengan aktualitas, adalah apa yang disebut dengan nilai berita.

Apa yang diperlukan adalah nilai penting, sedangkan apa yang diinginkan sebagian besar khalayak adalah nilai menarik. Suatu peristiwa atau pendapat, dapat memiliki nilai penting sekaligus menarik, misalnya bencana alam, kecelakaan, kebakaran, dan perang, atau hanya memiliki nilai penting saja, misalnya kebijakan kenaikan tarif, devaluasi, adanya wabah penyakit di suatu wilayah dan lain-lain, atau juga hanya memiliki nilai menarik saja, misalnya ular kawin, pesut melahirkan, human interest, dan lain-lain.

Contoh:

Kenaikan harga sembilan bahan pokok (sembako) adalah informasi yang perlu atau penting untuk diketahui, tetapi sangat tidak menarik atau diinginkan oleh sebagian besar khalayak. Jika beritanya adalah penurunan harga sembako, maka selain penting atau perlu untuk diketahui, juga menarik atau ingin diketahui.

Cara ular kawin merupakan adegan yang ingin atau menarik untuk diketahui, tetapi tidak perlu atau penting untuk diketahui. Jika suatu peristiwa dan atau pendapat memiliki salah satu nilai saja, apalagi kedua nilai itu sekaligus, peristiwa atau pendapat ini dapat diangkat menjadi karya jurnalistik.

Keterkaitan antara karya jurnalistik dan khalayak terletak pada nilai penting, menarik, penting sekaligus manarik, dan nilai kebaruan. Tanpa adanya salah satu nilai di atas, suatu karya tulis tidak dapat disebut karya jurnalistik.

Karya jurnalistik dapat menyentuh semua segi kehidupan manusia, baik masalah-masalah yang besar maupun yang kecil, asalkan masalah itu mengandung nilai berita.

Nilai penting dan menarik ini juga ditentukan oleh adanya kedekatan sentuhan peristiwa dan atau pendapat itu dengan kepentingan dan ketertarikan sebagian besar khalayak, seperti contoh berikut ini:

» Tono seorang pemuda berusia 21 tahun.

Ini hanya informasi, yang tidak penting dan menarik untuk diketahui, karena Tono hanya orang biasa dengan sifat nakal sebagaimana layaknya anak muda.

» Tono, karena kenakalannya sering ditangkap polisi, dan sering menjadi penghuni tempat penampungan anak nakal.

Ini pun hanya informasi yang tidak penting dan menarik untuk diketahui. Maklum, Tono orang biasa.

» Tono ditangkap polisi karena dituduh membunuh orang tuanya. Tiga bulan kemudian, Tono dibebaskan, karena ada bukti baru yang ternyata pembunuhnya bukan Tono. Tono menjadi bebas kembali.

Informasi ini, mungkin dianggap penting dan menarik oleh beberapa orang, tetapi tidak bagi sebagian besar khalayak. Jadi belum pantas dianggap menjadi berita.

» Dengan bebasnya Tono, berarti si pembunuh masih manjadi buronan yang berwajib. Berarti si pembunuh kemungkinan masih bebas berada di kota itu.

Informasi ini menjadi penting dan menarik bagi sebagian besar khalayak (penduduk kota). Penting diketahui karena si pembunuh ini bisa saja muncul dengan tiba-tiba dan membunuh lagi. Menarik bagi sebagian besar khalayak (penduduk kota), karena mereka ingin tahu apakah si pembunuh memang masih ada di kotanya.

Jadi, informasi tentang keberadaan si pembunuh ini sangat diperlukan dan diinginkan oleh sebagian besar khalayak (penduduk kota). Uraian tentang si pembunuh pasti akan dibaca, didengar, atau dilihat oleh khalayak!

Sifat kerja dibidang jurnalistik adalah kecepatan, ketepatan, dan kelengkapan fakta (informatif). Ketiga sifat ini menjadi perhatian utama para wartawan, reporter, atau redaktur, karena pada dasarnya, kredibilitas media massa periodik, di mata khalayak, lebih banyak ditentukan oleh ketiga sifat diatas.

Di Indonesia, filosofi pengolahan dan penyajian karya jurnalistik, baik berita maupun penjelasan masalah hangat adalah cepat – tepat – aman. Masalah “aman” perlu diperhatikan, karena bangsa Indonesia sedang dalam proses menuju ke sistem demokrasi yang lebih matang.

Jurnalistik merupakan sistem tersendiri di samping sistem kemasyarakatan dan pemerintahan. Posisi sistem jurnalistik berada di antara kedua sistem tersebut. Artinya, jurnalistik tidak memihak pemerintah, tidak pula memihak masyarakat. Jurnalistik berada pada titik netral. Dengan begitu, jurnalistik hanya membela nilai kebenaran dan keadilan secara universal.

Didalam pertumbuhan jurnalistik di Indonesia, pada mulanya dikenal jurnalistik partisan atau pejuang. Di sini, jurnalistik memihak pada perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda. Di sini, jurnalistik membela nilai kebenaran bahwa”kemerdekaan adalah hak segala bangsa di muka bumi ini”. Tokoh-tokoh wartawan partisan antara lain M. Natsir, Adam Malik, Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, Adinegoro, dan masih banyak lagi.

Selanjutnya dikenal jurnalistik objektif (faktual), jurnalistik subjektif (interpretatif), dan akhirnya dikenal jurnalistik baru (new journalism). Disebut jurnalistik baru karena pada mulanya karya jurnalistik tidak dibenarkan memasukkan unsur fiksi seperti sastra atau novel, tetapi pada jurnalistik baru atau jurnalistik kontemporer hal ini dibenarkan.

Pemasukkan unsur fiksi ke dalam karya jurnalistik dilakukan hanya pada unsur yang ada relevansinya dengan topik bahasan. Pada dasarnya, jurnalistik baru merupakan perpaduan atau simbiosis antara jurnalistik dan kesusastraan. Jurnalistik baru ini dikembangkan oleh wartawan yang juga sastrawan, atau sebaliknya. Jurnalistik baru (jurnalistik susastra atau kontemporer) merupakan salah satu cara mengkritik kekuasaan secara “terselubung”.

RUANG LINGKUP JURNALISTIK

Dalam garis besar jurnalistik Palapah dan Syamsudin, dalam diktatnya membagi ruang lingkup jurnalistik ke dalam dua bagian, yaitu : news dan views (Diktat “Dasar-dasar Jurnalistik”).

» News dapat dibagi menjadi menjadi dua bagian besar, yaitu: Straight news dan Feature news:

1. Straight news terdiri dari: - Matter of fact news (berita yang mengungkap fakta)

- Interpretative report (berita yang dikembangkan dengan

pendapat/penilaian wartawan berdasarkan fakta)

- Reportage (laporan dari liputan di TKP dengan 5W+1H)

2. Feature news terdiri dari: - Human interest features

- Historical features

- Biographical and personality features

- Travel features

- Scientifict features

» Views (opini/pandangan) dapat dibagi kedalam beberapa bagian yaitu:

1. Editorial (pandangan/pendapat/penilaian berdasarkan latar belakang,analisis dan solusi)

2. Special article

3. Coloum

4. Feature article

Ruang lingkup jurnalistik atau lahan jurnalistik adalah bidang kerja jurnalistik, mulai dari sumber karya jurnalistik, berita, sampai penjelasan masalah hangat. Ruang lingkup jurnalistik ini dapat berlaku baik untuk jurnalistik cetak maupun elektronik, termasuk didalamnya jurnalistik penyiaran (radio dan televisi).

Sumber informasi karya jurnalistik adalah peristiwa dan atau pendapat yang mengandung nilai berita, masalah hangat (current affairs), dan masalah hangat/hal yang unik, yang ada di dalam masyarakat. Sumber karya jurnalistik ini, biasanya hanya disebut peristiwa/fakta dan atau pendapat.

Berita adalah uraian fakta dan atau pendapat yang mengandung nilai berita, sedangkan penjelasan masalah hangat adalah penjelasan dari narasumber yang relevan tentang suatu masalah hangat yang muncul di tengah masyarakat.

Masalah hangat adalah suatu masalah yang menjadi topik pembicaraan hangat di dalam masyarakat, yang timbul sebagai akibat adanya isu yang belum pasti, baik sumber maupun kebenarannya.

Berita mempunyai beberapa bentuk dan jenis, yaitu:

- Berita terkini (news of the day) adalah peristiwa dan atau pendapat yang terjadi pada hari ini, yang dapat diolah dan disajikan dalam bentuk berita kuat (hard news) dan berita mendalam (indepth news), yang diolah dan disajikan dalam bentuk uraian komprehensif, interpretatif, dan investigatif. Hard news ada yang menyebutnya juga sebagai spot news/soft news/flash news/straight news.

- Berita berkala (news magazine) adalah uraian fakta dan atau pendapat yang nilai beritanya kurang kuat, khususnya nilai aktualitasnya. Berita berkala diolah dan disajikan dalam bentuk laporan eksploratif, laporan khas (feature), laporan human interest, berita analisis, dan majalah (gabungan).

Umumnya beberapa jenis berita (news) yang banyak digunakan media massa adalah Hard News, Soft News, Straight News, Spot News, Human Interest yang memiliki nilai berita dan Stop Press.

Hard News adalah berita yang biasanya “kurang menyenangkan”. Misalnya tentang kekerasan, kesengsaraan, sexologi, bencana alam dan lain-lain.

Soft News adalah berita-berita yang “menyenangkan”. Misalnya tentang kelahiran putra raja/kaisar/presiden, penerimaan hadiah nobel, berita keberhasilan seseorang, pemberian gelar doktor dan lain-lain.

Straight News adalah berita-berita yang karena memiliki nilai berita (news value) yang tinggi, maka penyajiannya secara langsung pada inti-inti beritanya saja. Berita langsung, apa adanya, ditulis singkat dan lugas. Sebagian besar halaman depan surat kabar atau yang menjadi berita utama (headline) merupakan berita jenis ini.

Spot News adalah berita-berita yang sangat penting dan menarik, berita itu masih menjadi “topik pembicaraan” khalayak luas.

Stop Press adalah berita-berita yang memiliki nilai tinggi dan masyarakat luas sangat menanti-nantikan keluarnya berita itu. Penyajian dilakukan secara khusus, misalnya menimbulkan “box” untuk media massa cetak, dan menyisipkan di tengah-tengah siaran untuk medium radio dan medium televisi, bisa dengan cara mensuperimposedkan dalam siaran yang tengah berlangsung, atau menyetop siaran itu dan memasukkan berita “Stop Press” ini.

Secara garis besar, struktur berita terdiri dari heading (judul), lead (pengantar), bridge (penghubung), body (tubuh), tambahan (accessory).

1. Judul berita harus merupakan daya tarik berita. Gunakan kata aktif dan pendek, empat sampai lima kata.

2. Lead adalah intisari berita. Lead harus memikat dan membangkitkan minat orang untuk membaca. Bagi orang sibuk, terkadang dia tak bisa membaca sampai habis. Tapi dengan membaca lead, orang sudah tahu apa yang terjadi.

3. Penghubung adalah bagian untuk meletakkan esensi substantif berita. Sehingga terbayang situasi beritanya. Contoh: Kapolresta Yogyakarta Superintendent Anwaruddin yang dikonfirmasi semalam membenarkan kejadian itu. “Kami mengerahkan seluruh reserse untuk mengungkapkan kasus itu,” tegasnya.

4. Tubuh berita adalah bagian utama, yang merinci substansi berita, sehingga pembaca mendapatkan pemahaman yang benar dan utuh.

5. Tambahan adalah pelengkap bagi keseluruhan berita.

Nilai Berita

Banyak definisi berita atau news yang dapat diketahui dari berbagai literatur, yang satu sama yang lain berbeda disebabkan pandangannya dari sudut yang berlainan.

Beberapa tahun yang lalu para ahli mendefinisikan berita dengan pandangan dari sudut surat kabar saja. Kini media elektronik yang juga menyiarkan berita harus diperhitungkan. Dan kenyataan menunjukkan bahwa penyiaran berita oleh stasiun radio dan televisi sangat berpengaruh terhadap jurnalistik surat kabar, antara lain dalam kecepatan sampainya berita kepada khalayak. Kalau suatu peristiwa baru dapat disiarkan surat kabar keesokan harinya, radio dan televisi hanya dalam hitungan jam saja, bahkan suatu peristiwa nasional dapat disiarkan radio dan televisi pada saat kejadian itu sendiri berlangsung. Akan tetapi, karena ketiga media massa itu, yakni surat kabar, radio dan televisi masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, maka pada akhirnya terjadilah upaya saling melengkapi.

Dikalangan wartawan ada yang mengartikan news sebagai singkatan dari:

- North = Utara

- East = Timur

- West = Barat

- South = Selatan

Mereka mengartikan berita sebagai laporan dari keempat penjuru angin tersebut, laporan dari mana-mana, dari berbagai tempat di dunia ini.

Pendapat itu tidaklah salah, akan tetapi hanya merupakan salah satu aspek saja dari keseluruhan arti berita yang sebenarnya.

Ada yang mengatakan bahwa news adalah jamaknya (plural) dari new, jadi penyiaran hal-hal yang baru dalam jumlah yang banyak. Ini pun tidak salah, tetapi juga hanya merupakan satu aspek saja dari keseluruhan pengertian berita yang sesungguhnya.

Memang berita, baik berita surat kabar, majalah, radio, atau televisi, adalah laporan wartawan. Banyak peristiwa yang terjadi, apakah itu kecelakaan, pemerkosaan, korupsi, atau pernyataan seseorang yang kenamaan, tetapi jika tidak dilaporkan oleh wartawan, tidak akan menjadi berita. Ciri hakiki berita ialah bahwa berita merupakan laporan yang sangat cepat (timely) dan mengenai kepentingan umum (public interest).

Suatu berita memiliki nilai layak berita jika di dalamnya ada unsur kejelasan (clarity) tentang kejadiannya, ada unsur kejutan (surprise), ada unsur kedekatan (proximity) secara geografis, serta ada dampak (impact) dan konflik personalnya. Umumnya pada nilai berita (news values/newsworthy) terdapat beberapa aspek yang mempengaruhi isi sebuah berita, diantaranya adalah:

Frequency. Semakin sering diberitakan (pagi, siang, sore, malam, setiap hari), maka akan menjadi berita besar. Lingkup berita (Threshold). Ukuran peristiwa apakah merupakan berita besar atau tidak. Unsur negatif (Negativity). Peramalan (Predictability). Dapat diperkirakan/diarahkan/ diramalkan. Berkesinambungan (Continuity). Selalu ditemukan data-data/ fakta-fakta baru (bersambung, berlanjut, berkesinambungan). Komposisi (Composition). Penggunaan bahasa, tanda baca yang digunakan dapat mempengaruhi efek.[1] Nyata. Informasi tentang sebuah fakta (bukan fiksi atau karangan). Fakta. Dalam dunia berita terdiri kejadian nyata, pendapat, dan pernyataan sumber berita. Penting. Menyangkut kepentingan orang banyak. Menarik. Informasi yang disajikan mengundang orang untuk membacanya.

Kriteria tentang nilai berita ini sekarang sudah lebih disederhanakan dan disistematikkan sehingga sebuah unsur kriteria mencakup jenis-jenis berita yang lebih luas. Ambillah sebuah berita yang dimuat dalam suatu harian, misalnya, maka anda akan menemukan satu atau dua unsur dibawah ini di dalamnya yang kita sebut sebagai nilai berita. Inilah kriteria berita atau unsur-unsur nilai berita yang sekarang dipakai dalam memilih berita. Unsur-unsur tersebut adalah:

Aktualitas (Timeliness). Persaingan mambutuhkan kecepatan. Bagi surat kabar, semakin aktual berita-beritanya, artinya semakin baru peristiwanya terjadi, semakin tinggi nilai beritanya. Kedekatan (Proximity). Peristiwa yang mengandung unsur kedekatan dengan pembaca, akan menarik perhatian. Keterkenalan (Prominence). Kejadian yang menyangkut tokoh terkenal (prominent names) memang akan banyak menarik pembaca. Dalam ungkapan jurnalistiknya: “personages make news,” dan “news about prominent persons make copy.” Dampak (Consequence). Peristiwa yang memiliki dampak luas terhadap masyarakat, misalnya pengumuman kenaikan harga BBM, memiliki nilai berita tinggi. Human Interest. Terkandung unsur yang menarik empati, simpati atau menggugah perasaan khalayak yang membacanya.

Sedangkan unsur berita 5W+1H (Apa, Siapa, Kapan, Dimana, Mengapa dan Bagaimana). Dalam lead, setidaknya harus tercermin unsur 5W, dan agar tidak menjenuhkan, lead harus padat, minimal empat atau lima baris. Kegagalan dalam membuat lead, bisa fatal. Pembaca tak terpikat. Itu berarti berita yang diburu susah-payah tak dibaca. Selain itu, masih menyangkut lead, tidak sedikit wartawan yang kesulitan ketika hendak mulai menulis. Padahal notesnya penuh dengan catatan data-data. Kenapa hal itu terjadi karena sang wartawan tidak siap dan tidak menguasai permasalahan.

Mengelola media pers dengan fungsi seperti itu memerlukan keberanian dan kebijaksanaan. Ini disebabkan oleh sifat pekerjaan mengelola pers yang idiel komersial. Kalau mengutamakan segi idiel, pers tidak akan hidup lama. Sebaliknya jika mengutamakan segi komersial, lembaga seperti itu tidak layak lagi diberi predikat pers. Jika pers benar-benar melaksanakan tugas social control-nya, akan banyak tantangan yang harus dijawab dengan sikap yang berani dan bijaksana. Dalam suatu situasi pers yang bisa dihadapkan kepada dua alternatif, atau mati terhormat karena memegang prinsip, atau hidup tidak terhormat disebabkan tidak mempunyai kepribadian.

PENUTUP

Seorang Jurnalis adalah wartawan. Seorang wartawan adalah orang yang pekerjaannya mencari dan menyusun berita untuk dimuat dalam surat kabar, buletin, majalah, radio, televisi, online, dan lainnya. Sehingga wartawan dapat dikatakan juga sebagai seorang penulis. Kemampuan menjadi penulis adalah kemampuan yang bisa dipelajari oleh semua orang. Yang diperlukan hanyalah latihan, latihan dan latihan. Selain itu, karena penulis bergaul dengan kata-kata, sebaiknya seorang penulis harus memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Jika menulis dalam bahasa Indonesia, Anda harus mengerti struktur Bahasa Indonesia, ejaan, dan lain-lain. “Selamat Berlatih…!”

T A M B A H A N

Majalah : Terbitan berkala yang isinya meliputi berbagai liputan jurnalistik, pandangan tentang topik aktual yang patut diketahui pembaca, dan menurut waktu penerbitannya dibedakan atas majalah bulanan, tengah bulanan, mingguan dsb dan menurut pengkhususan isinya dibedakan atas majalah berita, wanita, remaja, anak-anak, olahraga, sastra, hiburan, dinding, ilmu pengetahuan tertentu, dsb.

Buletin : Media cetak berupa selebaran atau majalah, berisi warta singkat atau pernyataan tertulis yang diterbitkan secara periodik oleh suatu organisasi atau lembaga untuk kelompok profesi tertentu.

Koran : Lembaran-lembaran kertas bertuliskan kabar (berita) dsb, terbagi dalam kolom-kolom (8-9 kolom/lebih), terbit setiap hari atau secara periodik; surat kabar; harian.

Media massa : Alat (sarana) komunikasi (koran, majalah, buletin, radio, tv, online, dll) untuk menyampaikan pesan ke semua orang dalam jumlah besar (banyak).

Jurnalisme Damai

Tidak selamanya peristiwa buruk itu adalah berita terbaik. Berita terbaik adalah berita yang mengandung nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan tidak memancing lahirnya fitnah. Berita seharusnya berimbang dan proporsional. Tidak memihak dan tidak memecah belah. Berita harus berdampak baik bagi peradaban manusia. Jawaban itu semua ada pada Jurnalisme Damai.

Jurnalis, Banyak Sahabat, Jalan-jalan Keliling Kota, Nusantara dan Dunia

Menjadi jurnalis, bagi saya, selalu menyenangkan. Selain selalu memiliki banyak sahabat dari berbagai latar belakang dan profesi dan selalu punya pengalaman baru, saya juga bisa jalan-jalan sambil bekerja, tentunya. Selama bekerja di Kompas, saya pernah mengunjungi Seoul, Panmunjom (Korea Selatan), Senegal (Afrika Barat), Paris, Lyons, Grenoble (Perancis), London (Inggris), Roma, Venesia, Sicilia (Italia), Aruba (Karibia), Den Haag, Rotterdam, Amsterdam (Belanda), Brussels (Belgia), San Diego, Los Angeles (Amerika Serikat), Hong Kong, Macau, Shenzhen (China), Kyoto, Osaka, Kitakyushu, Fukuoka (Jepang), Christmas Island (Australia), Kuala Lumpur, Genting Highlands (Malaysia), Manila (Filipina), Bangkok (Thailand), Brunei Darussalam, Singapura. Juga berbagai kota di Indonesia. Jika menikmati pekerjaan, bekerja pasti menyenangkan, bukan? Banyak kawan dan selalu jalan-jalan. Adhi Ksp/Wartawan Kompas